Rabu, 15 November 2023

MODUL 1 MIKRO





KONTROL KEBOCORAN GAS

1. Pendahuluan
[Kembali]

Di tengah kemajuan teknologi yang kian pesat, keselamatan dan keamanan di ruangan menjadi prioritas utama. Salah satu tantangan kritis yang dihadapi dalam lingkungan ini adalah potensi kebocoran gas, yang dapat membahayakan kehidupan dan harta benda. Untuk mengatasi risiko ini, sistem kontrol kebocoran gas telah menjadi suatu keharusan.

Dalam konteks ini, penggunaan teknologi sensor menjadi kunci utama. Sensor gas, sensor suara, dan sensor flame menjadi pilar penting dalam menciptakan solusi canggih yang mampu mendeteksi, merespons, dan mengatasi potensi kebocoran gas di ruangan. Kombinasi ketiga sensor ini membentuk suatu sistem yang kompleks dan serbaguna, memberikan lapisan keamanan yang luar biasa.

Pada percobaan ini mengajak kita menjelajahi bagaimana integrasi sensor gas, sensor suara, dan sensor flame menjadi solusi yang efektif untuk memonitor dan mengontrol kebocoran gas di dalam ruangan. Dengan kecerdasan buatan yang terus berkembang, sistem ini tidak hanya memberikan peringatan dini terhadap kebocoran gas, tetapi juga memastikan tanggapan cepat dan tepat guna untuk menjaga keselamatan semua yang berada di dalam ruangan tersebut. Melalui teknologi ini, kita dapat melangkah maju menuju lingkungan ruangan yang lebih aman, efisien, dan cerdas.


2. Tujuan [Kembali]

  1.     Merangkai dan menguji aplikasi output pada mikrokontroller Arduino
  2.     Merangkai dan menguji input pada mikrokontroller Arduino
  3.     Merangkai dan menguji I/O pada mikrokontroller Arduino 
3. Alat dan Bahan [Kembali]

A. Alat

    a). Instrument



b). Baterai

    
c). Generators



B. Bahan

    1). Komponen Input

a. Sensor Sound 

b. Sensor Flame


c. Sensor Gas


    2). Komponen Output

a. LED

b. Motor DC



c. Buzzer 



    3). Komponen Lainnya
            
a. Mikrokontroler


Modul Arduino

b. Resistor


c. Dioda


d. Transistor



4. Dasar Teori [Kembali]

A). Komponen Input

1. Sound Sensor

Modul sensor suara memberikan cara mudah untuk mendeteksi suara dan umumnya digunakan untuk mendeteksi intensitas suara. Modul ini dapat digunakan untuk keamanan, sakelar, dan pemantauan aplikasi. Akurasinya dapat dengan mudah disesuaikan untuk kenyamanan penggunaan. Ini menggunakan mikrofon yang memasok input ke amplifier, detektor puncak dan penyangga. 


·         The range of operating voltage is 3.⅗ V
·         The operating current is 4~5 mA
·         The voltage gain 26 dB ((V=6V, f=1kHz)
·         The sensitivity of the microphone (1kHz) is 52 to 48 dB
·         The impedance of the microphone is 2.2k Ohm
·         The frequency of m microphone is16 to 20 kHz
·         The signal to noise ratio is 54 dB

2. Flame Sensor

Flame sensor merupakan salah satu alat instrument berupa sensor yang dapat mendeteksi nilai intensitas dan frekuensi api dengan panjang gelombang antara 760 nm ~ 1100 nm.


Cara kerja flame detector mampu bekerja dengan baik untuk menangkap nyala api untuk mencegah kebakaran, yaitu dengan mengidentifikasi atau mendeteksi  nyala apiyang dideteksi oleh keberadaan spectrum cahaya infra red maupun ultraviolet dengan menggunakan metode optic kemudian hasil pendeteksian itu akan diteruskan ke Microprosessor yang ada pada unit flame detector akan bekerja untuk membedakan spectrum cahaya yang terdapat pada api yang terdeteksi tersebut dengan system delay selama 2-3 detik pada detektor ini sehingga mampu mendeteksi sumber kebakaran lebih dini dan memungkinkan tidak terjadi sumber alarm palsu.

Pada sensor ini menggunakan tranduser yang berupa infra red (IR) sebagai sensing sensor. Tranduser ini digunakan untuk mendeteksi akan penyerapan cahaya pada panjang gelombang tertentu, yang memungkinkan alat ini untuk membedakan antara spectrum cahaya pada api dengan spectrum cahaya lainnya seperti spectrum cahaya lampu, kilatan petir, welding arc, metal grinding, hot turbine, reactor, dan masih banyak lagi.

Spesifikasi Flame sensor :

  • Output= Digital (D0)
  • Working voltage: 3.3V to 5V
  • Output format: Digital output (HIGH/LOW)\
  • Wavelength detection range: 760nm to 1100nm
  • Using LM393 comparator
  • Detection angle: About 60 degrees, particularly sensitive to the flame spectrum
  • Lighter flame detect distance 80cm

3. Gas Sensor

Merupakan perangkat yang berfungsi untuk mendeteksi adanya konsentrasi gas pada suatu tempat. Berdasarkan konsentrasi gas, sensor ini akan menghasilkan beda potensial yang sesuai dengan cara mengubah resistansi material di dalam sensor sehingga bisa diukur sebagai tegangan keluaran. Berdasarkan besarnya nilai tegangan keluaran ini bisa diperkirakan berapa konsentrasi gas yang ada.


B). Komponen Output

1. Buzzer 

Pada dasarnya, prinsip kerja dari buzzer elektronika hampir sama dengan loud speaker dimana buzzer juga terdiri dari kumparan yang terpasang secara diafragma. Ketika kumparan tersebut dialiri listrik maka akan menjadi elektromagnet sehingga mengakibatkan kumparan tertarik ke dalam ataupun ke luar tergantung dari arah arus dan polaritas magnetnya. Karena kumparan dipasang secara diafragma maka setiap kumparan akan menggerakkan diafragma tersebut secara bolak-balik sehingga membuat udara bergetar yang akan menghasilkan suara.

Namun dibandingkan dengan loud speaker, buzzer elektronika relatif lebih mudah untuk digerakkan. Sebagai contoh, buzzer elektronika dapat langsung diberikan tegangan listrik dengan taraf tertentu untuk dapat menghasilkan suara. Hal ini tentu berbeda dengan loud speaker yang memerlukan rangkaian penguat khusus untuk menggerakkan speaker agar menghasilkan suara yang dapat didengar oleh manusia.

2. Motor DC

Motor Listrik DC atau DC Motor adalah suatu perangkat yang mengubah energi listrik menjadi energi kinetik atau gerakan (motion). Motor DC ini juga dapat disebut sebagai Motor Arus Searah. Seperti namanya, DC Motor memiliki dua terminal dan memerlukan tegangan arus searah atau DC (Direct Current) untuk dapat menggerakannya. Motor Listrik DC ini biasanya digunakan pada perangkat-perangkat Elektronik dan listrik yang menggunakan sumber listrik DC seperti Vibrator Ponsel, Kipas DC dan Bor Listrik DC.


3. LED

LED merupakan keluarga dari Dioda yang terbuat dari Semikonduktor. Cara kerjanya pun hampir sama dengan Dioda yang memiliki dua kutub yaitu kutub Positif (P) dan Kutub Negatif (N). LED hanya akan memancarkan cahaya apabila dialiri tegangan maju (bias forward) dari Anoda menuju ke Katoda.

Ketika LED dialiri tegangan maju atau bias forward yaitu dari Anoda (P) menuju ke Katoda (K), Kelebihan Elektron pada N-Type material akan berpindah ke wilayah yang kelebihan Hole (lubang) yaitu wilayah yang bermuatan positif (P-Type material). Saat Elektron berjumpa dengan Hole akan melepaskan photon dan memancarkan cahaya monokromatik (satu warna)

C). Komponen Lainnya

1. Arduino

Arduino adalah kit elektronik atau papan rangkaian elektronik open source yang di dalamnya terdapat komponen utama yaitu sebuah chip mikrokontroler dengan jenis AVR dari perusahaan Atmel. Arduino yang kita gunakan dalam praktikum ini adalah Arduino Uno yang menggunakan chip AVR ATmega 328P. Dalam memprogram Arduino, kita bisa menggunakan komunikasi serial agar Arduino dapat berhubungan dengan komputer ataupun perangkat lain.

Adapun spesifikasi dari Arduino Uno ini adalah sebagai berikut :

 

Arduino Uno

Bagian-bagian arduino uno:

-Power USB

Digunakan untuk menghubungkan Papan Arduino dengan komputer lewat koneksi USB.

-Power jack

Supply atau sumber listrik untuk Arduino dengan tipe Jack. Input DC 5 - 12 V.

-Crystal Oscillator

Kristal ini digunakan sebagai layaknya detak jantung pada Arduino. Jumlah cetak menunjukkan             16000 atau 16000 kHz, atau 16 MHz.

-Reset

Digunakan untuk mengulang program Arduino dari awal atau Reset.

-Digital Pins I / O

Papan Arduino UNO memiliki 14 Digital Pin. Berfungsi untuk memberikan nilai logika ( 0 atau 1 ). Pin berlabel " ~ " adalah pin-pin PWM ( Pulse Width Modulation ) yang dapat digunakan untuk menghasilkan PWM.

-Analog Pins

Papan Arduino UNO memiliki 6 pin analog A0 sampai A5. Digunakan untuk membaca sinyal atau sensor analog seperti sensor jarak, suhu dsb, dan mengubahnya menjadi nilai digital.

-LED Power Indicator

Lampu ini akan menyala dan menandakan Papan Arduino mendapatkan supply listrik dengan baik.

Bagian - bagian pendukung:

-RAM

RAM (Random Access Memory) adalah tempat penyimpanan sementara pada komputer yang isinya dapat diakses dalam waktu yang tetap, tidak memperdulikan letak data tersebut dalam memori atau acak. Secara umum ada 2 jenis RAM yaitu SRAM (Static Random Acces Memory) dan DRAM (Dynamic Random Acces Memory).

-ROM

ROM (Read-only Memory) adalah perangkat keras pada computer yang dapat menyimpan data secara permanen tanpa harus memperhatikan adanya sumber listrik. ROM terdiri dari Mask ROM, PROM, EPROM, EEPROM.

Block Diagram Mikrokontroler ATMega 328P pada Arduino UNO

Adapun block diagram mikrokontroler ATMega 328P dapat dilihat pada gambar berikut:



Block diagram dapat digunakan untuk memudahkan / memahami bagaimana kinerja dari mikrokontroler ATMega 328P.

Pin-pin ATMega 328P:

            Rangkaian Mikrokontroler ATMega 328P pada Arduino UNO


2. Transistor 

Transistor merupakan alat semikonduktor yang dapat digunakan sebagai penguat sinyal, pemutus atau penyambung sinyal, stabilisasi tegangan, dan fungsi lainnya. Transistor memiliki 3 kaki elektroda, yaitu basis, kolektor, dan emitor. Pada rangkaian kali ini digunakan transistor 2N2222A bertipe NPN. Transistor ini diperumpamakan sebagai saklar, yaitu ketika kaki basis diberi arus, maka arus pada kolektor akan mengalir ke emiter yang disebut dengan kondisi ON. Sedangkan ketika kaki basis tidak diberi arus, maka tidak ada arus mengalir dari kolektor ke emitor  yang disebut dengan kondisi OFF. Namun, jika arus yang diberikan pada kaki basis  melebihi arus pada kaki kolektor atau arus pada kaki kolektor adalah nol (karena tegangan kaki kolektor sekitar 0,2 - 0,3 V), maka transistor akan mengalami cutoff  (saklar tertutup).

Masing-masing kaki pada Transistor NPN tersebut adalah

1. Emitor (E) memiliki fungsi untuk menghasilkan elektron atau muatan negatif.

2. Kolektor (C) berperan sebagai saluran bagi muatan negatif untuk keluar dari dalam transistor.

3. Basis (B) berguna untuk mengatur arah gerak muatan negatif yang keluar dari transistor melalui kolektor.

Terdapat rumus rumus dalam mencari transistor seperti rumus di bawah ini:

Rumus dari Transitor adalah :

hFE = iC/iB

dimana, iC = perubahan arus kolektor 

iB = perubahan arus basis 

hFE = arus yang dicapai


Rumus dari Transitor adalah :

3. Dioda

Dioda adalah komponen elektronika aktif yang terbuat dari bahan semikonduktor dan mempunyai fungsi untuk menghantarkan arus listrik ke satu arah tetapi menghambat arus listrik dari arah sebaliknya.

Cara Kerja Dioda

Secara sederhana, cara kerja dioda dapat dijelaskan dalam tiga kondisi, yaitu kondisi tanpa tegangan (unbiased), diberikan tegangan positif (forward biased), dan tegangan negatif (reverse biased).

A. Kondisi tanpa tegangan

Pada kondisi tidak diberikan tegangan akan terbentuk suatu perbatasan medan listrik pada daerah P-N junction. Hal ini terjadi diawali dengan proses difusi, yaitu bergeraknya muatan elektro dari sisi n ke sisi p. Elektron-elektron tersebut akan menempati suatu tempat di sisi p yang disebut dengan holes. Pergerakan elektron-elektron tersebut akan meninggalkan ion positif di sisi n, dan holes yang terisi dengan elektron akan menimbulkan ion negatif di sisi p. Ion-ion tidak bergerak ini akan membentuk medan listrik statis yang menjadi penghalang pergerakan elektron pada dioda.

B. Kondisi tegangan positif (Forward-bias)

Pada kondisi ini, bagian anoda disambungkan dengan terminal positif sumber listrik dan bagian katoda disambungkan dengan terminal negatif. Adanya tegangan eksternal akan mengakibatkan ion-ion yang menjadi penghalang aliran listrik menjadi tertarik ke masing-masing kutub. Ion-ion negatif akan tertarik ke sisi anoda yang positif, dan ion-ion positif akan tertarik ke sisi katoda yang negatif. Hilangnya penghalang-penghalang tersebut akan memungkinkan pergerakan elektron di dalam dioda, sehingga arus listrik dapat mengalir seperti pada rangkaian tertutup.

C. Kondisi tegangan negatif (Reverse-bias)

Pada kondisi ini, bagian anoda disambungkan dengan terminal negatif sumber listrik dan bagian katoda disambungkan dengan terminal positif. Adanya tegangan eksternal akan mengakibatkan ion-ion yang menjadi penghalang aliran listrik menjadi tertarik ke masing-masing kutub. Pemberian tegangan negatif akan membuat ion-ion negatif tertarik ke sisi katoda (n-type) yang diberi tegangan positif, dan ion-ion positif tertarik ke sisi anoda (p-type) yang diberi tegangan negatif. Pergerakan ion-ion tersebut searah dengan medan listrik statis yang menghalangi pergerakan elektron, sehingga penghalang tersebut akan semakin tebal oleh ion-ion. Akibatnya, listrik tidak dapat mengalir melalui dioda dan rangkaian diibaratkan menjadi rangkaian terbuka.

rumus


4. Resistor

Resistor adalah komponen Elektronika Pasif yang memiliki nilai resistansi atau hambatan tertentu yang berfungsi untuk membatasi dan mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian Elektronika. Resistor atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan Hambatan atau Tahanan dan dilambangkan dengan huruf R. Satuan Hambatan atau Resistansi Resistor adalah Ohm (Ω).


Dimana V adalah tegangan,  I adalah kuat arus, dan R adalah Hambatan.

Di dalam resistor, terdapat ketentuan untuk membaca nilai resistor yang diwakili dengan kode warna dengan ketentuan di bawah ini :


Sebagian besar resistor yang kita lihat memiliki empat pita berwarna . Oleh karena itu ada cara membacanya seperti ketentuan dibawah ini :
1. Dua pita pertama dan kedua menentukan nilai dari resistansi
2. Pita ketiga menentukan faktor pengali, yang akan memberikan nilai resistansi.
3. Dan terakhir, pita keempat menentukan nilai toleransi.


Rumus Resistor:

Seri : Rtotal = R1 + R2 + R3 + ….. + Rn

Dimana :
Rtotal = Total Nilai Resistor
R1 = Resistor ke-1
R2 = Resistor ke-2
R3 = Resistor ke-3
Rn = Resistor ke-n

Paralel: 1/Rtotal = 1/R1 + 1/R2 + 1/R3 + ….. + 1/Rn

Dimana :
Rtotal = Total Nilai Resistor
R1 = Resistor ke-1
R2 = Resistor ke-2
R3 = Resistor ke-3
Rn = Resistor ke-n


5. Percobaan [Kembali]

A. Prosedur
1. Download semua library yang diperlukan dari blog
2. Buka aplikasi proteus dan buat rangkaian sesuai percobaan
3. Masukkan library ke masing-masing rangkaian 
4. Buka aplikasi arduino ide dan masukkan kodingan lalu compile
5. Masukkan kodingan arduino pada rangkaian proteus
6. Jika semua sudah selesai, Jalankan rangkaian 

B. Diagram Blok



C. Rangkaian Simulasi dan Prinsip kerja




Rangkaian ini bekerja pada 3 buah Sensor yang ada pada sebuah ruangan :
- Sensor Gas, yang dimana akan mendeteksi adanya kebocoran gas pada ruangan tersebut dan akan mengaktifkan sebuah bunyi alarm
- Sensor Sound, ketika alarm dari output sensor gas dideteksi oleh sensor ini maka akan mengaktifkan exhaust fan yang dimana akan membuka dan mempercepat sirkulasi udara keluar ruangan sehingga gas tersebut dapat terurai
- Sensor Flame, Jika ketika kebocoran gas juga memicu nyala api, maka sensor flame akan mendeteksi nya dan akan mengaktifkan sprinkler air di bagian langit-langit ruangan yang mana akan mengeluarkan air untuk memadamkan api tersebut

D. Flowchart dan Listing Program

Flowchart :



Listing Program :

const int gasSensorPin = 9;         // Pin analog untuk gas sensor
const int buzzerPin = 7;             // Pin untuk buzzer
const int soundSensorPin = 11;       // Pin analog untuk sound sensor
const int motorFanPin = 6;           // Pin untuk motor kipas
const int flameSensorPin = 10;        // Pin untuk flame sensor (digital)
const int motorSprinklerPin = 5;     // Pin untuk motor sprinkler air

void setup() {
  pinMode(buzzerPin, OUTPUT);
  pinMode(soundSensorPin, INPUT);
  pinMode(motorFanPin, OUTPUT);
  pinMode(flameSensorPin, INPUT);
  pinMode(motorSprinklerPin, OUTPUT);
  pinMode(gasSensorPin, INPUT);
  Serial.begin(9600);
}

void loop() {
  // Membaca nilai dari gas sensor
  int gasValue = digitalRead(gasSensorPin);

  // Mengontrol buzzer berdasarkan nilai sensor gas
  if (gasValue == HIGH) {
    digitalWrite(buzzerPin, HIGH);
    Serial.println("Deteksi gas! Buzzer dinyalakan.");
  } else {
    digitalWrite(buzzerPin, LOW);
    Serial.println("Tidak ada deteksi gas. Buzzer dimatikan.");
  }

  // Membaca nilai dari sound sensor
  int soundValue = digitalRead(soundSensorPin);

  // Mengontrol motor kipas berdasarkan nilai sound sensor
  if (soundValue == HIGH) {
    digitalWrite(motorFanPin, HIGH);
    Serial.println("Suara terdeteksi. Motor kipas dinyalakan.");
  } else {
    digitalWrite(motorFanPin, LOW);
    Serial.println("Tidak ada deteksi suara. Motor kipas dimatikan.");
  }

  // Membaca nilai dari flame sensor
  int flameValue = digitalRead(flameSensorPin);

  // Mengontrol motor sprinkler air berdasarkan nilai flame sensor
  if (flameValue == HIGH) {
    digitalWrite(motorSprinklerPin, HIGH);
    Serial.println("Deteksi nyala api! Motor sprinkler air dinyalakan.");
  } else {
    digitalWrite(motorSprinklerPin, LOW);
    Serial.println("Tidak ada deteksi nyala api. Motor sprinkler air dimatikan.");
  }

  delay(1000); // Delay untuk menghindari pembacaan yang terlalu cepat
}

E. Video Demo
  • Video Teori Sensor Sound

  • Video Teori Sensor Flame

  • Video Teori Gas sensor
  • Video Teori Arduino

G. Video Simulasi


H. Download

- Rangkaian Simulasi [Klik Disini]
- Video Simulasi [Klik Disini]
- HTML [Klik Disini]
- Program [Klik Disini]

Download Library
Library Flame Sensor [Klik Disini]
Library Sound Sensor [Klik Disini]
- Library Gas Sensor [Klik Disini]
- Library Arduino [Klik Disini]

Download Datasheet
Datasheet Gas Sensor [Klik Disini]
Datasheet Flame Sensor [Klik Disini]
- Datasheet Sound Sensor [Klik Disini]
- Datasheet Arduino [Klik Disini]


Jawaban UTS No.3 Up

     [KEMBALI KE MENU SEBELUMNYA] DAFTAR ISI 1. Tujuan 2. Alat dan Bahan 3. Dasar Teori 4. Percobaan 5. File Download   Jawaban No.3 1. Tu...